Kembali lagi, kembali untuk menulis..

24 10 2011

“Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa, suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah di mana. Cara itulah yang bermacam-macam dan di sanalah harga kreativitas ditimbang-timbang.”
(Seno Gumira Ajidarma, Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara)

Senin, 24 Oktober 2011, rasanya sudah banyak tulisan yang Saya baca hari ini, mulai dari tulisan di blog teman-teman, berita-berita update yang tertata di website, serta info-info yang saya dapat baik dari facebook ataupun social network lainnya. Lalu, terbesit dalam benak saya “tulisan gw mana ya? rasa-rasanya udah lama gw nggak nulis”. Sempat beberapa kali ingin menulis sih, tapi ya begitulah, tenggelam begitu saja.
Otak mulai tumpul rasanya dalam hal tulis-menulis, ketika menulis ini saja, piston dalam otak saya memompa sangat lambat, sehingga sulit sekali untuk memilih dan merangkai kata menjadi sebuah tulisan. Yap, rasanya mulai detik ini harus mulai belajar menulis lagi, malu rasanya kalo blog ane sedari dulu itu-itu saja isinya.
Bismillah, semoga Allah menuntun gw untuk menulis secara baik, benar dan bijaksana. Amiin…
Oiya, bicara soal tulis-menulis, jadi teringat dengan quote dari ayah Pramoedya dalam novel Rumah Kaca. Dia bilang “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah”. Dan tentunya, Saya tidak mau begitu saja dilupakan dalam masyarakat, bahkan tak pernah diingat pernah ada dalam sejarah abad ini. Saya ingin selalu dikenang sepanjang masa, tapi dalam artian dikenang karena sesuatu hal yang baik, entah itu lewat tulisan ataupun tindakan yang saya lakukan.
Oke, pada intinya, hari ini saya kembali meniatkan diri saya untuk menulis lagi..





BEBERAPA CARA SUDUT PANDANG DAN ANALISIS GEOGRAF DI DALAM GEOGRAFI

2 10 2009

ANALISIS GEOGRAFI

Seorang geograf akan memiliki langkah-langkah awal untuk menganalisis sebuah permasalahan. Seorang geograf harus memiliki pola berfikir secara holistik (memandang suatu masalah tidak hanya dari satu sisi saja) yang menyeluruh. Langkah-langkahnya adalah:

  • Dimulai dengan mendeskripsikan masalah dan melihat bahwa bumi adalah cakupan atau ruang lingkup dari masalah itu.
  • Step yang kedua mengidentifikasi dari specific phenomenal content dari permukaan bumi; quantitas, qualitas dan degree.
  • Identifikasi dari generic relations (hubungan general) ; categoriztion, classification and differentiation.
  • Identtifikasi dari generic relation; yang melihat hubungannya dari dynamic aspect dari konten keruangan.
  • Langkah ke lima, penentuan hubungan covariant yang menonjol di dalam bumi.
  • Pengitegrasian dari data dalam ruang, fenomena, dan proses sebagai bentuk keseluruhan dari hubungan keruangan sebagai final step.

SUDUT PANDANG DAN PENDEKATAN DALAM GEOGRAFI PENDUDUK

Di dalam Geografi Penduduk pendekatan yang di pakai adalah pendekatan sistematik (sistematic approach ). Pendekatan sistematik ini di nilai lebih efektif karena di dalam mengkaji masalah populasi pendekatan sistematik yang terfokus pada satu topik saja, sehingga analisisnya akan mengacu pada satu topik bahasan saja damn memperbandingkannya dengan region lain sehingga pokok pembahasannya tidak lepas dari populasi. Pendekatan ini lebih naik dibandingkan mosaik description yang merupakan penjelasan secara acak dan belum terfokus pada satu permasalahan.

Jadi sistematic approach ( pendekatan sisitematik ) merupakan pendekatan yang sesuai untuk membahas dan menganalisis populasi di dalam geografi penduduk.





Geografi – Pengenalan Geografi

2 10 2009

Geografi adalah Ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan dari fenomena-fenomena di permukaan bumi sesuai dengan referensinya, atau studi mengenai area-area yang berada di permukaan bumi, di dalam pengertian karakteristik-karakteristiknya.

Prinsip Geografi

  • Persebaran: Gejala dan fakta yang tersebar tidak merata di permukaan bumi yang meliputi bentang alam dan makhluk hidup lainnya seperti tumbuh – tumbuhan, hewan, dan manusia.
  • Interelasi: Hubungan saling terkait dalam ruang antara gejala yang satu dengan lainnya. Sebagai contoh banjir yang terjadi di wilayah hilir terjadi karena kerusakan hutan di bagian hulu. Kerusakan hutan alam itu dapat terjadi karena perilaku menusia. Perilaku manusia yang demikian terjadi karena kesadaran terhadap fungsi hutan yang rendah
  • Deskripsi: Penjelasan lebih jauh mengenai gejala yang diselidiki. Pendiskripsian itu melalui fakta, gejala dan masalah, sebab-akibat, secara kualitatif maupun kuantitatif dengan bantuan peta, grafik, diagram, dll.
  • Korologi (Spatialnya): Merupakan Prinsip yang komprehensip , karena memadukan prinsip lainnya. Fenomena atau masalah alam dan manusia dikaji penyebarannya, interelasinya, dan interaksinya dalam satu ruang. Kondisi ruang itu akan memberikan corak pada kesatuan gejala, kesatuan fungsi dan kesatuan bentuk.

Pendekatan Geografi

Permasalahan yang dihadapi adalah bagaimana memecahkan masalah urbanisasi. Masalah itu merupakan masalah yang kompleks, melibatkan dua wilayah, yaitu wilayah desa dan kota. Untuk memecahkan masalah itu dapat dilakukan dengan langkah sebagai berikut.

1.   menerapkan pendekatan keruangan, seperti dicontohkan pada pendekatan pertama
2.   menerapkan pendekatan kelingkungan, sebagaimana dicontohkan pada pendekatan kedua
3.   menganalisis keterkaitan antara faktor-faktor di wilayah desa dengan di kota

Arti Penting Pendekatan dalam Paradigma Geografi Dalam menghampiri, menganalisis gejala dan permasalahan suatu ilmu (sains), maka diperlukan suatu metode pendekatan (approach method). Metode pendekatan inilah yang digunakan untuk membedakan kajian geografi dengan ilmu lainnya, meskipun obyek kajiannya sama. Metode pendekatan ini terbagi 3 macam bentuk pendekatan antara lain: pendekatan keruangan, pendekatan ekologi/kelingkungan dan pendekatan kewilayahan.

1. Keruangan, analisis yang perlu diperhatikan adalah penyebaran, penggunaan ruang dan perencanaan ruang. Dalam analisis peruangan dikumpulkan data ruang disuatu tempat atau wilayah yang terdiri dari data titik (point), data bidang (areal) dan data garis (line) meliputi jalan dan sungai.

2.     Kelingkungan, yaitu menerapkan konsep ekosistem dalam mengkaji suatu permasalahan geografi, fenomena, gaya dan masalah mempunyai keterkaitan aspek fisik dengan aspek manusia dalam suatu ruang.

3.     Kewilayahan, yang dikaji yaitu tentang penyebaran fenomena, gaya dan masalah dalam ruangan, interaksi antar/variabel manusia dan variabel fisik lingkungannya yang saling terkait dan mempengaruhi satu sama lainnya. Karena pendekatan kewilayahan merupakan perpaduan antara pendekatan keruangan dan kelingkungan, maka kajiannya adalah perpaduan antara keduanya.

Pendekatan keruangan, pendekatan kelingkungan dan pendekatan kewilayahan dalam kerjanya merupakan satu kesatuan yang utuh. Pendekatan yang terpadu inilah yang disebut pendekatan geografi. Jadi fenomena, gejala dan masalah ditinjau penyebaran keruangannya, keterkaitan antara berbagai unit ekosistem dalam ruang. Penerapan pendekatan geografi terhadap gejala dan permasalahan dapat menghasilkan berbagai alternatif-alternatif pemecahan.

Objek Geografi

Menurut para ahli geografi Indonesia yang tergabung dalam Ikatan Geograf Indonesia (IGI) melalui seminar dan lokakarya nasional di Semarang, telah bersepakat mengenai objek studi geografi. Menurut IGI objek geografi adalah: Objek material dan objek formal.

-    Objek Material Geografi

Objek material geografi yaitu merupakan sasaran atau yang dikaji dalam studi geografi.
Objek studi geografi adalah lapisan-lapisan bumi atau tepatnya fenomena geosfer.

-    Objek Formal Geografi

Objek formal adalah metode atau pendekatan yang digunakan dalam mengkaji suatu masalah. Metode atau pendekatan objek formal geografi meliputi beberapa aspek, yakni aspek keruangan (spatial), kelingkungan (ekologi), kewilayahan (regional) serta aspek waktu (temporal).

  • Aspek Keruangan; geografi mempelajari suatu wilayah antara lain dari segi “nilai” suatu tempat dari berbagai kepentingan. Dari hal ini kita lalu mempelajari tentang letak, jarak, keterjangkauan dsb.
  • Aspek Kelingkungan; geografi mempelajari suatu tempat dalam kaitan dengan keadaan suatu tempat dan komponen-komponen di dalamnya dalam satu kesatuan wilayah. Komponen-komponen itu terdiri dari komponen tak hidup seperti tanah, air, iklim dsb, dan komponen hidup seperti hewan, tumbuhan dan manusia.
  • Aspek Kewilayahan; geografi mempelajari kesamaan dan perbedaan wilayah serta wilayah dengan ciri-ciri khas. Dari hal ini lalu muncul pewilayahan atau regionalisasi misalnya kawasan gurun, yaitu daerah-daerah yang mempunyai ciri-ciri serupa sebagai gurun.
  • Aspek Waktu; geografi mempelajari perkembangan wilayah berdasarkan periodeperiode waktu atau perkembangan dan perubahan dari waktu ke waktu. Misalnya perkembangan kota dari tahun ke tahun, kemunduran garis pantai dari waktu ke waktu dsb.

Perlu diperhatikan bahwa dalam mengkaji suatu permasalahan, geografi terbagi menjadi geografi fisis dan geografi manusia yang keduanya tak dapat dipisahkan. Bahkan masingmasing cabang geografi saling membutuhkan dan saling melengkapi. Untuk lebih jelasnya, tentang objek geografi Anda dapat melihat skema berikut.

1

Struktur Geografi

Struktur keruangan berkenaan dengan dengan elemen-elemen penbentuk ruang. Elemen-elemen tersebut dapat disimbulkan dalam tiga bentuk utama, yaitu:

1. kenampakan titik (point features),

2  kenampakan garis (line features)

3 kenampakan bidang (areal features).

Kerangka kerja analisis pendekatan keruangan bertitik tolak pada permasalahan susunan elemen-elemen pembentuk ruang. Dalam analisis itu dilakukan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut.

1.  What? Struktur ruang apa itu?

2.  Where? Dimana struktur ruang tesebut berada?

3.  When? Kapan struktur ruang tersebut terbentuk sperti itu?

4.  Why? Mengapa struktur ruang terbentuk seperti itu?

5.  How? Bagaimana proses terbentukknya struktur seperti itu?

6.  Who suffers what dan who benefits whats? Bagaimana struktur

Keruangan tersebut didayagunakan sedemikian rupa untuk kepentingan manusia. Dampak positif dan negatif dari keberadaan ruang seperti itu selalu dikaitkan dengan kepentingan manusia pada saat ini dan akan datang.

Aspek Geografi

  • Aspek fisik (alamiah): gejala – gejala alam yang timbul. Gejala fisik itu terdiri atas tanah, air, udara dengan segala prosesnya. Bidang kajian dalam geografi fisik adalah gejala alamiah di permukaan bumi yang menjadi lingkungan hidup manusia. Oleh karena itu keberadaan cabang ilmu ini tidak dapat dipisahkan dengan mansuia.
  • Aspek sosial (kehidupan) dengan segala interaksi, penyebaran maupun relasinya. Manusia di permukaan bumi beragam adat dan budayanya, hal ini mengakibatkan interaksi antara penduduk yang berbeda. Penduduk mempunyai keahlian yang berbeda-beda pula sehingga terjadi saling membutuhkan. Penduduk juga menempati tempat yang berbeda-beda kondisi alam dan sumberdayanya, hal ini menyebabkan kehidupannya juga menjadi beragam karena memanfaatkan alam yang berbeda perlu pengolahan dan alat yang berbeda pula.

Konsep Esensial Geografi

Konsep adalah pengertian dari sekelompok fenomena atau gejala-gejala, sehingga dapat dipakai untuk menggambarkan berbagai gejala atau fenomena yang sama. Ada 10 konsep esensial (dasar) geografi, yaitu:

Konsep Lokasi; yaitu letak di permukaan bumi, misalnya Gunung Bromo terletak di Jawa Timur.

Konsep Jarak; yaitu jarak dari satu tempat ke tempat lain. Jarak dibagi menjadi jarak absolut dan jarak relatif. Jarak absolut merupakan jarak yang ditarik garis lurus antara dua titik. Dengan demikian jarak absolut adalah jarak yang sesungguhnya. Jarak relatif adalah jarak atas pertimbangan tertentu misalnya rute, waktu, biaya, kenyamanan dsb. Misalnya jarak Jakarta ke Bandung 180 km atau Jakarta-Bandung dapat ditempuh dalam waktu 3 jam melewati Puncak.

Kedua hal ini merupakan contoh jarak relatif berdasarkan pertimbangan rute dan waktu.

Konsep Keterjangkauan; yaitu mudah dijangkau atau tidaknya suatu tempat, misalnya dari Jakarta ke Kota Cirebon lebih mudah dijangkau dibandingkan dengan dari Jakarta ke Pulau Kelapa (di kepulauan Seribu) karena kendaraan Jakarta-Cirebon lebih mudah didapat dibandingkan dengan Jakarta-Pulau Kelapa.

Konsep Pola; yaitu persebaran fenomena antara lain misalnya pola pemukiman yang menyebar, yang berbentuk garis dan sebagainya.

Konsep Morfologi; yaitu bentuk lahan, misalnya dalam kaitannya dengan erosi dan sedimentasi.

Konsep Aglomerasi; yaitu pola-pola pengelompokan. Misalnya sekelompok penduduk asal daerah sama, masyarakat di kota cenderung mengelompok seperti permukiman elit, pengelompokan pedagang dan sebagainya. Di desa masyarakat rumahnya mengelompok di tanah datar yang subur.

Konsep Nilai Kegunaan; yaitu nilai suatu tempat mempunyai kegunaan yang berbeda-beda dilihat dari fungsinya. Misalnya daerah wisata mempunyai kegunaan dan nilai yang berlainan bagi setiap orang. Tempat wisata tersebut belum tentu bernilai untuk pertanian atau fungsi lainnya.

Konsep Interaksi dan Interdependensi; yaitu keterkaitan dan ketergantungan satu tempat dengan tempat lainnya. Misalnya antara kota dan desa sekitarnya terjadi saling membutuhkan.

Konsep Deferensiasi Areal; yaitu fenomena yang berbeda antara satu tempat dengan tempat lainnya atau kekhasan suatu tempat.

Konsep Keterkaitan Keruangan (Asosiasi); yaitu menunjukkan derajad keterkaitan antar wilayah, baik mengenai alam atau sosialnya.

Sumber Acuan:
Bahaudin, Cholifah. Bahan kuliah Pengantar Geografi
Bintarto R., Metode Analisa Geografi, Jakarta: LP3ES, 1986
Drs. Rachmat Kusnadi, Drs. Muhammad Oding, Sutomo, S.Pd., Geografi untuk SMU Kelas I, Grafindo, 1999.
im Geografi SMU DKI, Geografi SMU jilid IA, Jakarta: Erlangga, 2000
Sandy, I Made. Bahan Kuliah Metodologi Penelitian
http://walhijabar.blogspot.com/20080101archive.html
http://walhijabar.blogspot.com/20080101archive.html
http://malan.ac.id.htm




Peranan Geograf dalam Pengembangan Transportasi di Indonesia

2 02 2009

busway

Foto : www.skyscraper.com

Transportasi merupakan sebuah pengetahuan yang telah dikembangkan oleh manusia sejak mereka mengenal hidup menetap. Transportasi pada hakekatnya merupakan kegiatan pergerakan atau perpindahan barang dan manusia pada ruang dan suatu waktu melalui moda tertentu.

Paul Mees (1995) berpendapat:

  1. Kebijakan transportasi bukan sekadar masalah pemindahan barang dan manusia.
  2. Transportasi sangat berpengaruh dalam pembentukan kota.
  3. Transportasi juga berperan sebagai akses bagi semua penduduk karena masih banyak orang tidak memiliki kendaraan pribadi.

Kegiatan pergerakan atau perpindahan barang, manusia dan informasi pada ruang dan waktu, tidak dapat terlepas dari ilmu geografi. Kegiatan perpindahan ini menggunakan sarana dan prasarana yang selalu berubah-ubah, dalam geografi disebut sebagai network. Tempat asal dan tempat tujuan perpindahan, berubah sesuai permintaan. Pandangan ilmu geografi menyebutnya sebagai titik (nodes). Manusia, barang dan informasi merupakan objek dari perpindahan ini. Ketiga hal tersebut merupakan wujud dari permintaan perpindahan ini. Begitu perpindahan terjadi, maka hal tersebut nampak nyata sebagai fungsi dari gerakan (flows).

Untuk mengetahui sistem transportasi dari segi organisasi keruangan, yang perlu diketahui adalah struktur dari jaringan. Unsur jaringan yang utama adalah keterkaitan (linkages) yaitu jaringan jalan dan titik (nodes) yaitu pusat kegiatan. Jaringan jalan dapat berbentuk berbagai fasilitas seperti jalan raya, jalan kereta, jalur angkutan udara, jalur perjalanan laut dan sungai, atau dapat juga pergerakan (flows) di atas jaringan tersebut, seperti jumlah kendaraan, jumlah penumpang, perpindahan barang dalam satuan waktu tertentu. Sementara nodes adalah simpul-simpul yang menghubungkan tempat asal dan tempat tujuan, seperti pusat kegaitan ekonomi, kota, terminal penumpang, terminal komunikasi elektronik dan sebagainya.

Sistem transportasi dipengaruhi pada tata ruang, lingkungan alam (darat, udara dan laut), sosial, ekonomi dan politik sehingga harus dikelola dengan sebaik-baiknya untuk kesejahteraan manusia.

Permasalahannya, fasilitas-fasilitas transportasi di Indonesia saat ini masih jauh dari cukup. Sebagai contoh, pada awal tahun 1999/2000, sekitar 13 % jalan nasional, 29 % jalan provinsi, dan 58 % jalan kabupaten berada dalam kondisi rusak ringan dan berat. Ini berarti dari sekitar 256.951 km total panjang jaringan jalan sekitar separuhnya berada dalam keadaan rusak ringan dan berat. Tantangan yang dihadapi oleh Indonesia guna mencapai tujuan di atas adalah bagaimana meningkatkan penyediaan jaringan prasarana dan sarana transportasi yang dapat menjamin kelancaraan arus barang dan jasa serta penyebaran aliran investasi secara merata di seluruh daerah serta bagaimana meningkatkan keterkaitan ekonomi antar daerah secara menguntungkan dan meningkatkan percepatan pertumbuhan ekonomi daerah dengan pengembangan sentra kegiatan ekonomi pendorong pertumbuhan wilayah sekitarnya.

Pengembangan transportasi harus berdasarkan perencanaan jangka panjang yang komprehensif dan berwawasan lingkungan. Disinilah dibutuhkan peran serta geografi dalam menganalisis secara komprehensif dan pendekatan secara sistematik. Perencanaan transportasi sebaiknya didasarkan pada analisis dengan didasarkan pemodelan transportasi. Pertama-tama, yang diperlukan adalah pengumpulan data yang akurat dan reliable. Salah satu kelemahan dari perencanaan transportasi di Indonesia adalah dalam hal pengumpulan data sebagai dasar analisis (Munawar, 1999). Dari data yang terkumpul tersebut, kemudian dirancang suatu model transportasi. Model didefinisikan sesuatu yang dapat menggambarkan keadaan yang ada di lapangan (Munawar, 2005).

Sumber:

Rodrigue, J., 2004, The Geography of Transport System. e-book, chapter 1, www.people.hofstra.edu/geotr

Taaffe, E.J., H.L. Gauthier, M.E. O’Kelly. 1996. Geography of Transportation. Prentice Hall. New Jersey.





SEJARAH TRANSPORTASI KOTA DEPOK

20 12 2008

Sebelum tahun 1960 perkembangan Depok belum terlihat kecuali lingkungan perumahan masyarakat yang dibangun secara alami. Lokasi perumahan dan perkampungan masih terpencar-pencar. Awal tahun 1968 wilayah Depok dan sekitarnya dibangun lingkungan pemukiman dan dijadikan hak milik oleh Cornellis Chaserling, yang sebelumnya milik pejabat tinggi perhimpunan dagang hindia-belanda (VOC). Kawasan tersebut meliputi Depok, Mampang dan Karang Anyar. Karang Anyar terletak di antara Mampang, Pancoran Mas dan Ratu Jaya. Kemudian sejalan dengan semakin berkembangnya Depok arah pengembangan fisik kota terbagi menjadi dua bagian wilayah (gambar 2), yaitu:

- wilayah yang menjadi bagian Kotif Depok (mencakup Kecamatan Beji, pancoran Mas dan Sukmajaya) diatur dalam rencana detail tata ruang kota (RDTR). Wilayah yang menjadi bagian kotif Depok bagian utara dikembangkan secara terbatas karena merupakan kawasan resapan air.

- wilayah yang menjadi bagian Kabupaten Bogor (mencakup Kecamatan Limo, Sawangan dan Cimanggis) diatur dalam rencana tata ruang kawasan Bopunjur (Bogor – Puncak – Cianjur)

Arah pembangunan fisik Kota Depok dipengaruhi oleh ketersediaan akses ke Jakarta. Hal ini terlhat dari berkembangnya perumahan di pinggir Jakarta (suburbanisasi) khususnya disekitar Kecamatan Cimanggis dan Limo. Kegiatan komersial dan jasa terkonsentrasi di jalan Margonda Raya. Industri berkembang di sepanjang jalan Bogor Raya. Jika dilihat dari pola dan bentuknya, maka ada tiga akses utama Utara – Selatan yang mempengaruhi secara langsung, yaitu Jalan Raya Parung, Margonda Raya dan Raya Bogor. Namun jika dilihat dari perkembangannya saat ini, maka pusat kegiatan perdagangan, jasa serta industri lebih mengarah di bagian tengah (sektor Margonda Raya) dan Timur Kota (jalan Raya Cimanggis-Bogor). Sehingga daya tarik perkembangan lebih ke arah timur, kecuali Cinere yang lebih banyak dipengaruhi oleh perkembangan pinggiran Jakarta. Pusat-pusat perdagangan dan komersil yang berkembang dapat diidentifikasikan sebagai berikut:

1. Pusat perdagangan utama kota di Margonda dengan jenis kegiatan masih bercampur termasuk kegiatan informasi dengan skala peayanan lokal dan wilayah

2. Pusat perdagangan dan jasa di Cinere, relatif memilki kelengkapan dan tingkat pelayanan yang sama di Margonda bahkan lebih ditujukan untuk konsumen menengah ke atas.

3. Kawasan Cisalak yang memiliki pasar tradisional dan fasilitas toko modern yang cukup potensial untuk berkembang

4. Kawasan simpang Akses UI – Raya Cimanggis, yang berkembang pelayanan eceren dengan skala lokal.

5. Kawasan Citayam, yang sudah mengalami rehabilitasi dan fasilitas perdagangan, pelayanan eceran dan grosir yang menampung komoditi dari daerah selatan

Sistem Transportasi Jalan Raya

Wilayah Kota depok berada di antara pusat-pusat regional dan nasional yaitu Bandung dan Jakarta. Konsekuensinya Depok akan menjadi perlintasan sistem transportasi regional. Hal ini dapat dilihat dengan dilayaninya jalan tol Jagorawi, jalan Raya Bogor dan Parung. Disamping itu Kota Depok masuk dalam kategori kota dengan karakteristik perkotaan dan sistem transportasi modern. Keadaan ini terkait dengan kedudukannnya dalam sistem metropolitan Jakarta. Sehubungan dengan hal tersebut, Kota Depok memilki karakter pola komuter cukup tinggi dengan besarnya penduduk yang bekerja di Jakarta dan sekaligus sebagai perlintasan regional wilayah belakngnya. Kendala yang dihadapi oleh kota Depok adalah rendahnya tingkat pelayanan jalan menuju Jakarta dan sebaliknya pada jam sibuk, dan kurangnya jalan alternative dari lingkungan perumahan menuju jalan utama atau kolektor. Tidak tersedianya jalan yang memadai sebagai penghubung barat dan timur wilayah kota akibat kendala fisik (wilayah kpota terbagi oleh jalan rel KA dan sungai Ciliwung) untk mengintegrasikan kota Depok.

Berdasarkan hasil studi Rencana Transportasi Wilayah Kabupaten Bogor Tahun 1995-2015, kota Depok termasuk dalam model perwilayahan transportasi atau wilayah Kordon II, yang berarti wilayah ini mempunyai karakteristik sistem transportasi bersifat modern, berciri perkotaan yang dikaitkan dengan keterkaitan yang erat dengan sistem transportasi metropolitan Jakarta (gambar 1).

Pola jaringan jalan wilayah kota Depok menunjukkan pola grid atau kisi-kisi. Pola ini menunjukkan efisiensi penggunaan jalan bagi para pemakai jalan. Lintasan utara-selatan dapat dilakukan melalui Jalan Margonda, Jalan Raya Bogor, dan Jalan Meruyung Raya. Lintasan barat-timur pada bagian tengah kota dapat dilakukan melalui Jalan Tole Iskandar, Jalan Siliwangi, Jalan Dewi Sartika, Jalan Sawangan, Jalan Muhtar Raya. Terlihat bahwa lintasan barat-timur yang melayani pergerakan untuk bagian selatan dan utara penduduk Kota Depok belum mencukupi.

Untuk meningkatkan pelayanan terhadap angkutan kota dan angkutan umum lainnya, maka di wilayah Kota Depok terdapat terminal terpadu, yang memadukan antara terminal jalan raya dengan stasiun kereta api yang terletak di Jalan Margonda. Dengan adanya rencana pengembangan terminal terpadu di Citayam, maka terminal antar kota (Terminal A) dapat dialihkan pada kawasan ini sedangkan terminal yang berada di pusat kota diarahkan untuk terminal dalam kota (Terminal B). Selain itu perlu juga dikembangkan sub-sub terminal (Terminal C) pada beberapa lokasi pada bagian utara, barat dan timur Kota Depok.

Untuk melayani pergerakan dari Kota Depok ke kawasan-kawasan di sekitar kota Depok yang berada dalam wilayah Kota Jakarta dilayani oleh angkutan bus baik bus berukuran sedang maupun bus berukuran besar. Pergerakan dari Kota Depok ke kota-kota lainnya yaitu ke Bekasi, Bogor, Banjar, Sukabumi, dan Pangandaran dilayani oleh bus berukuran sedang dan besar dengan jumlah armada 81 kendaraan.

Sistem Transportasi Kereta Api (KA)

Kota Depok juga dihubungkan dengan sistem angkutan massal KRL (Kereta Rel Listrik) Bogor-Depok-Jakarta. Rel KA ini sudah menggunakan sistem jalur ganda. Adapun sarana stasiun yang ada meliputi stasiun UI, Pondok Cina, Depok Baru, Depok Lama, dan Citayam. Pelayanan angkutan KA sangat membantu mengurangi beban jalan raya khusunya untuk jam sibuk pada pagi hari dan sore hari. Konsekuensi dari adanya pola komuter yang tinggi adalah dibutuhkannya sistem transportasi terpadu antara jalan rel dan jalan raya. Pola keterkaitan antar moda sudah cukup baik dengan adanya terminal terpadu di Stasiun Depok Baru antara terminal angkutan umum dan KA. Terdapat lima buah stasiun kereta api yang terdapat dalam wilayah Kota Depok, yaitu Stasiun Universitas Indonesia, Pondok Cina, Depok Baru, Depok Lama dan Citayam.

Analisis Sistem Transportasi

Dalam pengembangan transportasi Kota Depok tidak dapat dipisahkan dengan pengembangan transportasi regional, karena wilayah kota Depok dilalui oleh lintasan regional jaringan jalan dan jaringan kereta api. Lintasan regional yang melalui Kota Depok adalah Jalan Raya Bogor, Jalan Tol Jagorawi, dan jaringan kereta api Jakarta – Depok – Bogor. Dengan faktor keuntungan lokasional menjadikan kota Depok mempunyai posisi yang cukup strategis dan berakses tinggi.

Penutup

Peranan Kota Depok di masa yang akan datang tetap akan merupakan pilihan sebagai lokasi tempat tinggal bagi penduduk yang bekerja di Jakarta tetapi ingin bertempat tinggal di sekitar wilayah Jakarta. Dengan demikian perlu adanya perbaikan sarana transportasi kereta api yang lebih nyaman dan cepat sehingga pergerakan dengan menggunakan angkutan kereta api dapat mengurangi pengguna jalan raya yang mengunakan kendaraan pribadi serta dapat mengurangi kemacetan lalu lintas.

Keterkaitan antar moda angkutan jalan raya dengan moda angkutan kereta api mutlak dilaksanakan, sehingga pergerakan pengguna angkutan umum dapat dilakukan secara nyaman dan cepat. Selain itu, keterkaitan antar moda juga diperlukan pada sistem angkutan jaringan jalan, yaitu keterkaitan antara moda angkutan antar kota dengan angkutan dalam kota dan hal ini telah dilakukan pada terminal terpadu yang terletak di kawasan pusat kota (Jalan Margonda).

Sumber: Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Depok, Tahun 2000-2010

Sejarah Singkat Kota Depok (http://www.pacific.net.id/~nurfauzi/depok.htm)

Lampiran

jarjalan4Gambar 1. Rencana Jaringan Jalan Depok – Bogor Tahun 2010

peta-perkembangan2






Ramalan Pulau Jawa

11 12 2008

Pulau Jawa merupakan Pulau ketigabelas terbesar di dunia yang memiliki luas pulau 138.793,6 km2 dengan penduduk sekitar 124 juta jiwa atau dengan kepadatan 979 jiwa per km2 (Wikipedia). Berbeda dengan data resmi Bakosurtanal yang menyatakan bahwa luas Pulau Jawa adalah 132.187 km2 dan luas total daratan Indonesia adalah 1.919.443 km2, atau kurang lebih 7 persen dari luas daratan Indonesia. Sedangkan, jumlah penduduk di Pulau Jawa pada tahun 1990, menurut Agenda 21 Indonesia yang diterbitkan Kementerian Negara Lingkungan Hidup 1997, adalah 107.515.322 jiwa dari jumlah total penduduk Indonesia pada tahun tersebut sebanyak 179.243.375 jiwa, atau 60 persen penduduk Indonesia hidup di Pulau Jawa. Ini berarti kepadatan penduduk di Jawa adalah 813 orang per km2. Dari hasil Susenas 1980 hingga tahun 2000, identitas Pulau Jawa sebagai pulau terpadat di Indonesia belum juga hilang. Ironisnya, sebagian pulau lain, seperti Maluku dan Papua, yang luasnya masing-masing hampir empat dan lima kali luas Pulau Jawa hanya dihuni oleh sekitar 2 hingga 5 persen dari total penduduk Indonesia.

Tabel 1. Kepadatan Penduduk Indonesia Menurut Pulau,

(Tahun 1930 – 1998).

14

Permasalahan mengenai kepadatan penduduk Pulau Jawa bukanlah suatu hal baru. Pada tahun 1815, Gubernur Jenderal Inggris di Jawa, Thomas Stamford Raffles (1781-1826), dalam bukunya yang terkenal The History of Java, Vol I, hal 68-72, telah mengungkapkan gejala kelebihan penduduk (over population) Pulau Jawa. Kepadatan penduduk Jawa yang sangat tinggi terutama disebabkan oleh kebijakan pembangunan di era orde baru yang terkonsentrasi di pulau Jawa. Hal ini menyebabkan banyak penduduk yang tinggal di luar pulau Jawa bermigrasi dan menetap di pulau Jawa. Faktor lain yang mendorong kepadatan penduduk Jawa tinggi adalah pengaruh sejarah, dan tanahnya yang sangat subur sehingga memungkinkan pembuatan teras-teras sawah irigasi.

Akibat dari tidak meratanya penduduk yaitu luas lahan pertanian di Jawa semakin sempit. Lahan bagi petani sebagian dijadikan permukiman dan industri. Sebaliknya banyak lahan di luar Jawa belum dimanfaatkan secara optimal karena kurangnya sumber daya manusia. Sebagian besar tanah di luar Jawa dibiarkan begitu saja tanpa ada kegiatan pertanian. Keadaan demikian tentunya sangat tidak menguntungkan dalam melaksanakan pembangunan wilayah dan bagi peningkatan pertahanan keamanan negara.

Prediksi dalam Agenda 21 Indonesia, pada tahun 2020 penduduk Indonesia akan mencapai 254.214.909 jiwa dan penduduk Pulau Jawa akan berkembang menjadi 144.214.909 jiwa atau kepadatan penduduk menjadi 1091 orang per km persegi. Ini berarti 57,7 persen penduduk Indonesia hidup di 6,9 persen lahan daratan. Padahal tidak semua daratan dapat digunakan karena berupa gunung dan bukit yang ditutupi hutan lindung, atau topografi terjal yang tidak dapat dimanfaatkan, bahkan sebagian besar harus dilindungi untuk menjaga keseimbangan hidrologis.

Praktek-praktek pembangunan yang bias daratan pasca diberlakukannya UU No. 32 Tahun 2004 (sebelumnya UU No. 22 Tahun 1999) tentang Pemerintahan Daerah, mendorong percepatan eksploitasi sumber daya alam dan lingkungan dalam beberapa tahun terakhir. Dari rasio penduduk terhadap ketersediaan lahan yang makin kecil, Pulau Jawa sampai tahun 2020 akan terus-menerus menghadapi degradasi lingkungan, seperti ketidakseimbangan hidrologis (keterbatasan tersedianya air, banjir, longsor), lingkungan hidup makin kumuh di bantaran-bantaran sungai, pantai, dan urbanisasi semakin meningkat karena kehidupan di tanah-tanah pertanian tidak memberi harapan yang baik, meningkatnya konversi lahan pertanian menjadi lahan nonpertanian (perumahan, industri, pusat-pusat jasa), meningkatnya konsumsi beras dengan bertambahnya penduduk, sedangkan luas lahan pertanian tidak berubah, malah berkurang, juga meningkatnya aspek sampingan dari kepadatan dan kemiskinan penduduk, seperti kesehatan, kriminalitas, dan pengangguran.

Solusi

Untuk dapat mengurangi penduduk Pulau Jawa minimal 2 juta per tahun, diperlukan pembangunan pusat-pusat pertumbuhan di pulau-pulau besar dan kecil di luar Pulau Jawa, berbasis industri agromaritim. Rencana strategis ini perlu didukung oleh tata ruang terpadu antara pusat dan daerah serta antara darat dan laut untuk mengurangi tekanan penduduk terhadap lahan di Pulau Jawa.

Sumber:

http://id.wikipedia.org/wiki/Pulau_Jawa

http://beranda.blogsome.com/2008/06/30/pembangunan-di-pulau-jawa/

http://meylya.wordpress.com/2008/11/30/akankah-pulau-jawa-akan-punah/

http://jawabali.com/lingkungan-hidup/ramalan-raffles-dan-du-bus-483

http://www.e-dukasi.net/mol/mo_full.php?moid=140&fname=geo111_12.htm

http://www.walhi.or.id/kampanye/pela/060304_krsknlingkpsisrjw_li/

http://demografi.bps.go.id/versi1





GUNUNG LEUSER

11 12 2008

leuser

Nama Gunung : Gunung Leuser

Ketinggian : 3.381 Mdpl

Temperatur Udara : Berkisar antara 21° – 28° C, dimana suhu minimum rata-rata 21,5 ºC dan suhu maksimum rata-rata 27,5 ºC

Curah Hujan : Berkisar antara 1.300mm – 4.600mm pertahun, selama musim kemarau curah hujan tidak pernah dibawah 100mm perbulan, dengan kelembaban antara 80 – 100 %.

Deskripsi : Gunung ini bukan merupakan gunung berapi. Terletak di wilayah aceh dan sumatera utara, masuk dalam Taman Nasional Gunung Leuser. Kawasan ini terletak dekat Kutacane, kurang lebih 100 km arah barat Medan yang dapat dicapai melewati jalan yang melalui Brastagi. Sungai Alas, dan jalan di-sepanjang sungai tersebut, membelah kawasan ini menjadi dua bagian, timur dan barat. Ekosistem Leuser mencakup daerah Kluet, Besitang, dan Trumon-Singkil. Tetapi kawasan yang dimaksud disini tidak mencakup daerah Trumon-Singkil, yang dipisahkan menjadi satu daerah penting bagi burung tersendiri. Bagian tertinggi di dalam kawasan ini adalah puncak G. Leuser (3.450 m), yang juga merupakan puncak kedua tertinggi di Sumatera. Selain itu terdapat pula beberapa daerah yang memiliki ketinggian di atas 3.000 m. Lembah Alas termasuk dalam kawasan ini dengan bagian tertingginya adalah G. Bendahara (2.997 m). Tipe habitat yang terdapat dalam kawasan ini antara lain hutan hujan dataran rendah selalu hijau, hutan hujan pegunungan bawah, dan hutan hujan pegunungan atas. Selain itu ada pula daerah lahan basah di daerah pesisir dan daerah yang ditanami (arable – 5%). Semak sub-alpin terdapat pada puncak-puncak gunung. Perladangan berpindah terutama terjadi di daerah Lembah Alas.

Tentang Jalan-jalan ke Leuser
Lewat jalur Dusun Keudah,Kuta Panjang, Kabupaten Aceh Tenggara, NAD.

Jalur

Jenis Kendaraan

jumlah

Harga

Keberangkatan

Depok (PUSGIWA) – Pasar Minggu

Bus Miniarta

1 orang

Rp2,500.00

Pasar Minggu – Bandara Soekarno-Hatta

Bus DAMRI

1 orang

Rp20,000.00

Bandara Soekarno-Hatta – Polonia Medan

Pesawat Air Asia

1 orang

Rp636,900.00

Airport Tax Sukarno-Hatta

1 orang

Rp30,000.00

Medan-kedah

Mini Bus KARSIMA

1 orang

Rp130,000.00

Kepulangan

Kedah-medan(Kampus USU)

Mini Bus KARSIMA

1 orang

Rp130,000.00

Kampus USU – Belawan

Angkot

1 orang

Rp15,000.00

Medan (Belawan) – Jakarta (Tj. Priok)

KM KELUD II

1 orang

Rp340,000.00

Tanjung Priok – Terminal Tj. Priok

Carter Carry

1 orang

Rp7,000.00

Total

Rp1,311,400.00

Penampang Melintang :

122

Tekanan : Tekanan utama yang dihadapi kawasan ini adalah penebangan liar yang terjadi di bagian ujung selatan kawasan ini, pembukaan hutan untuk ladang terutama di sepanjang Lembah Alas, serta perburuan liar baik untuk koleksi maupun untuk diperdagangkan. Keberadaan jalan di bagian pesisir barat antara Tapaktuan dan Bakungan yang memotong kawasan ini, menimbulkan peluang untuk penangkapan/perburuan hewan serta pembukaan lahan untuk perladangan. Penebangan liar dilaporkan terjadi di dalam kawasan pada bulan Juni 1999.








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.