SEJARAH TRANSPORTASI KOTA DEPOK

20 12 2008

Sebelum tahun 1960 perkembangan Depok belum terlihat kecuali lingkungan perumahan masyarakat yang dibangun secara alami. Lokasi perumahan dan perkampungan masih terpencar-pencar. Awal tahun 1968 wilayah Depok dan sekitarnya dibangun lingkungan pemukiman dan dijadikan hak milik oleh Cornellis Chaserling, yang sebelumnya milik pejabat tinggi perhimpunan dagang hindia-belanda (VOC). Kawasan tersebut meliputi Depok, Mampang dan Karang Anyar. Karang Anyar terletak di antara Mampang, Pancoran Mas dan Ratu Jaya. Kemudian sejalan dengan semakin berkembangnya Depok arah pengembangan fisik kota terbagi menjadi dua bagian wilayah (gambar 2), yaitu:

- wilayah yang menjadi bagian Kotif Depok (mencakup Kecamatan Beji, pancoran Mas dan Sukmajaya) diatur dalam rencana detail tata ruang kota (RDTR). Wilayah yang menjadi bagian kotif Depok bagian utara dikembangkan secara terbatas karena merupakan kawasan resapan air.

- wilayah yang menjadi bagian Kabupaten Bogor (mencakup Kecamatan Limo, Sawangan dan Cimanggis) diatur dalam rencana tata ruang kawasan Bopunjur (Bogor – Puncak – Cianjur)

Arah pembangunan fisik Kota Depok dipengaruhi oleh ketersediaan akses ke Jakarta. Hal ini terlhat dari berkembangnya perumahan di pinggir Jakarta (suburbanisasi) khususnya disekitar Kecamatan Cimanggis dan Limo. Kegiatan komersial dan jasa terkonsentrasi di jalan Margonda Raya. Industri berkembang di sepanjang jalan Bogor Raya. Jika dilihat dari pola dan bentuknya, maka ada tiga akses utama Utara – Selatan yang mempengaruhi secara langsung, yaitu Jalan Raya Parung, Margonda Raya dan Raya Bogor. Namun jika dilihat dari perkembangannya saat ini, maka pusat kegiatan perdagangan, jasa serta industri lebih mengarah di bagian tengah (sektor Margonda Raya) dan Timur Kota (jalan Raya Cimanggis-Bogor). Sehingga daya tarik perkembangan lebih ke arah timur, kecuali Cinere yang lebih banyak dipengaruhi oleh perkembangan pinggiran Jakarta. Pusat-pusat perdagangan dan komersil yang berkembang dapat diidentifikasikan sebagai berikut:

1. Pusat perdagangan utama kota di Margonda dengan jenis kegiatan masih bercampur termasuk kegiatan informasi dengan skala peayanan lokal dan wilayah

2. Pusat perdagangan dan jasa di Cinere, relatif memilki kelengkapan dan tingkat pelayanan yang sama di Margonda bahkan lebih ditujukan untuk konsumen menengah ke atas.

3. Kawasan Cisalak yang memiliki pasar tradisional dan fasilitas toko modern yang cukup potensial untuk berkembang

4. Kawasan simpang Akses UI – Raya Cimanggis, yang berkembang pelayanan eceren dengan skala lokal.

5. Kawasan Citayam, yang sudah mengalami rehabilitasi dan fasilitas perdagangan, pelayanan eceran dan grosir yang menampung komoditi dari daerah selatan

Sistem Transportasi Jalan Raya

Wilayah Kota depok berada di antara pusat-pusat regional dan nasional yaitu Bandung dan Jakarta. Konsekuensinya Depok akan menjadi perlintasan sistem transportasi regional. Hal ini dapat dilihat dengan dilayaninya jalan tol Jagorawi, jalan Raya Bogor dan Parung. Disamping itu Kota Depok masuk dalam kategori kota dengan karakteristik perkotaan dan sistem transportasi modern. Keadaan ini terkait dengan kedudukannnya dalam sistem metropolitan Jakarta. Sehubungan dengan hal tersebut, Kota Depok memilki karakter pola komuter cukup tinggi dengan besarnya penduduk yang bekerja di Jakarta dan sekaligus sebagai perlintasan regional wilayah belakngnya. Kendala yang dihadapi oleh kota Depok adalah rendahnya tingkat pelayanan jalan menuju Jakarta dan sebaliknya pada jam sibuk, dan kurangnya jalan alternative dari lingkungan perumahan menuju jalan utama atau kolektor. Tidak tersedianya jalan yang memadai sebagai penghubung barat dan timur wilayah kota akibat kendala fisik (wilayah kpota terbagi oleh jalan rel KA dan sungai Ciliwung) untk mengintegrasikan kota Depok.

Berdasarkan hasil studi Rencana Transportasi Wilayah Kabupaten Bogor Tahun 1995-2015, kota Depok termasuk dalam model perwilayahan transportasi atau wilayah Kordon II, yang berarti wilayah ini mempunyai karakteristik sistem transportasi bersifat modern, berciri perkotaan yang dikaitkan dengan keterkaitan yang erat dengan sistem transportasi metropolitan Jakarta (gambar 1).

Pola jaringan jalan wilayah kota Depok menunjukkan pola grid atau kisi-kisi. Pola ini menunjukkan efisiensi penggunaan jalan bagi para pemakai jalan. Lintasan utara-selatan dapat dilakukan melalui Jalan Margonda, Jalan Raya Bogor, dan Jalan Meruyung Raya. Lintasan barat-timur pada bagian tengah kota dapat dilakukan melalui Jalan Tole Iskandar, Jalan Siliwangi, Jalan Dewi Sartika, Jalan Sawangan, Jalan Muhtar Raya. Terlihat bahwa lintasan barat-timur yang melayani pergerakan untuk bagian selatan dan utara penduduk Kota Depok belum mencukupi.

Untuk meningkatkan pelayanan terhadap angkutan kota dan angkutan umum lainnya, maka di wilayah Kota Depok terdapat terminal terpadu, yang memadukan antara terminal jalan raya dengan stasiun kereta api yang terletak di Jalan Margonda. Dengan adanya rencana pengembangan terminal terpadu di Citayam, maka terminal antar kota (Terminal A) dapat dialihkan pada kawasan ini sedangkan terminal yang berada di pusat kota diarahkan untuk terminal dalam kota (Terminal B). Selain itu perlu juga dikembangkan sub-sub terminal (Terminal C) pada beberapa lokasi pada bagian utara, barat dan timur Kota Depok.

Untuk melayani pergerakan dari Kota Depok ke kawasan-kawasan di sekitar kota Depok yang berada dalam wilayah Kota Jakarta dilayani oleh angkutan bus baik bus berukuran sedang maupun bus berukuran besar. Pergerakan dari Kota Depok ke kota-kota lainnya yaitu ke Bekasi, Bogor, Banjar, Sukabumi, dan Pangandaran dilayani oleh bus berukuran sedang dan besar dengan jumlah armada 81 kendaraan.

Sistem Transportasi Kereta Api (KA)

Kota Depok juga dihubungkan dengan sistem angkutan massal KRL (Kereta Rel Listrik) Bogor-Depok-Jakarta. Rel KA ini sudah menggunakan sistem jalur ganda. Adapun sarana stasiun yang ada meliputi stasiun UI, Pondok Cina, Depok Baru, Depok Lama, dan Citayam. Pelayanan angkutan KA sangat membantu mengurangi beban jalan raya khusunya untuk jam sibuk pada pagi hari dan sore hari. Konsekuensi dari adanya pola komuter yang tinggi adalah dibutuhkannya sistem transportasi terpadu antara jalan rel dan jalan raya. Pola keterkaitan antar moda sudah cukup baik dengan adanya terminal terpadu di Stasiun Depok Baru antara terminal angkutan umum dan KA. Terdapat lima buah stasiun kereta api yang terdapat dalam wilayah Kota Depok, yaitu Stasiun Universitas Indonesia, Pondok Cina, Depok Baru, Depok Lama dan Citayam.

Analisis Sistem Transportasi

Dalam pengembangan transportasi Kota Depok tidak dapat dipisahkan dengan pengembangan transportasi regional, karena wilayah kota Depok dilalui oleh lintasan regional jaringan jalan dan jaringan kereta api. Lintasan regional yang melalui Kota Depok adalah Jalan Raya Bogor, Jalan Tol Jagorawi, dan jaringan kereta api Jakarta – Depok – Bogor. Dengan faktor keuntungan lokasional menjadikan kota Depok mempunyai posisi yang cukup strategis dan berakses tinggi.

Penutup

Peranan Kota Depok di masa yang akan datang tetap akan merupakan pilihan sebagai lokasi tempat tinggal bagi penduduk yang bekerja di Jakarta tetapi ingin bertempat tinggal di sekitar wilayah Jakarta. Dengan demikian perlu adanya perbaikan sarana transportasi kereta api yang lebih nyaman dan cepat sehingga pergerakan dengan menggunakan angkutan kereta api dapat mengurangi pengguna jalan raya yang mengunakan kendaraan pribadi serta dapat mengurangi kemacetan lalu lintas.

Keterkaitan antar moda angkutan jalan raya dengan moda angkutan kereta api mutlak dilaksanakan, sehingga pergerakan pengguna angkutan umum dapat dilakukan secara nyaman dan cepat. Selain itu, keterkaitan antar moda juga diperlukan pada sistem angkutan jaringan jalan, yaitu keterkaitan antara moda angkutan antar kota dengan angkutan dalam kota dan hal ini telah dilakukan pada terminal terpadu yang terletak di kawasan pusat kota (Jalan Margonda).

Sumber: Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Depok, Tahun 2000-2010

Sejarah Singkat Kota Depok (http://www.pacific.net.id/~nurfauzi/depok.htm)

Lampiran

jarjalan4Gambar 1. Rencana Jaringan Jalan Depok – Bogor Tahun 2010

peta-perkembangan2


Advertisement

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.